Hari-hari bahagianya sebagai wanita yang bertunangan tiba-tiba berubah menjadi ruangan kotor dan penuh sampah di rumah bosnya. Kebebasannya direnggut, dan tubuh indahnya terekspos tanpa perlindungan di atas futon kotor. "Tidak... hentikan..." Penolakannya yang penuh air mata tidak didengar oleh pria tua yang tak pernah puas itu. Perlawanannya perlahan memudar saat pria itu tanpa henti menusukkan penis kotornya, dan dia mulai menerima kenikmatan itu. Perkawinan hewani yang menggali ke kedalaman rahimnya adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dicapai oleh hubungan seks lembut dengan tunangannya. Otaknya meleleh menjadi genangan air akibat pembuahan yang kasar. "Kurasa aku lebih bahagia seperti ini..." Bahkan saat mengenakan seragam dan diperintahkan untuk melayani, dia memilih untuk hidup sebagai mainan seks di ruangan sampah—sebuah catatan mengejutkan tentang transformasinya menjadi wanita yang tunduk.